Berita

12 Pilot LP3 Banyuwangi Diwisuda

Image

Wisuda Taruna LP3 Banyuwangi (Photo: Humas)

Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi tengah berbangga hati. Sebab telah lahir pilot-pilot yang siap mengangkasa dari sekolah pilot negeri ke dua di Indonesia, yang ada di Kabupaten The Sunrise of Java ini. Sebanyak 12 taruna angkatan pertama Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang (LP3) Banyuwangi telah resmi dikukuhkan sebagai pilot kemarin (26/11).

 

Pengukuhan itu dilakukan langsung oleh Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Perhubungan, Wahju Satrio Utomo, melalui wisuda yang digelar di hanggar LP3 Banyuwangi di Bandara Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi. “Ini adalah sebuah kebanggaan kita bisa meluluskan wisudawan penerbang pertama di sekolah pilot negeri kedua di Indonesia. Kita berharap para pilot ini akan memberikan kualitas terbaiknya dimanapun mereka berada,” kata Wahyu.

 

Wahju mengatakan para wisudawan pilot tersebut telah menempuh pendidikan selama 2 tahun. Selama itu mereka mendapatkan teori sebanyak 30-40 persen didalam kelas. Selebihnya mereka lebih banyak melakukan praktek menggunakan simulator dan praktek terbang secara langsung. Para pilot ini pun telah mendapatkan commercial pilot license untuk bisa bekerja di maskapai komersial. ”Mereka semua telah diminta oleh maskapai Garuda dan Pelita Air,”  ujar Wahyu.

 

Wahju melanjutkan, kebutuhan pilot di Indonesia sangat signifikan. Dalam setahun ada 77 pesawat baru yang didatangkan oleh berbagai maskapai di Indonesia. Setiap pesawat membutuhkan dua set kru dimana masing-masing kru terdiri dari 5 pilot. Itu berarti ada kebutuhan 770 pilot baru ppertahunnya. “Sementara sekolah pilot negeri dan swasta baru bisa meluluskan 400-an pilot. Kita akan terus mengembangkan sekolah pilot untuk memenuhi kebutuhan penerbang nasional. Salah satunya dengan mengembangkan sekolah pilot negeri di Banyuwangi ini,” tutur Wahyu.

 

Sementara itu Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, Yudhi Sari menambahkan, LP3 Banyuwangi menargetkan pada tahun 2015 akan meluluskan 40 pilot lagi.  LP3B akan terus dikembangkan untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan penerbang yang profesional dan memenuhi standar internasional. “Ini juga untuk menyambut masyarakat ekonomi Asean (MEE) agar instruktur kita tidak tergusur oleh instruktur dari luar negeri.  Salah satunya menjajaki kerjasama dengan Boeing,” cetus Yudi.

 

Sebagai langkah awal, kata Yudi minimal instruktur bisa mengajar dengan bahasa inggris. Assesment pun dilakukan dengan menggandeng universitas dari Australia untuk mengukur kemampuan para intruktur. “Nanti kalau diassement nilainya kurang akan kita kursuskan ke Australia 3 bulan sekaligus menambah wawasan penerbangan,” imbuhnya.