Berita

Sekolah Pilot Negeri Banyuwangi Resmi Dibuka, Perkuat SDM Penerbangan Nasional

Image

Taruna LP3 Banyuwangi Angkatan Pertama (Foto: Humas LP3B)

Banyuwangi – Kementerian Perhubungan Republik Indonesia meresmikan Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B), sebuah lembaga pendidikan pilot negeri yang dibangun di Banyuwangi, Jawa Timur. Peresmian tersebut dilaksanakan pada Senin, 23 Desember, sebagai langkah konkret dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor penerbangan nasional.

 

Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan, Santoso Eddy Wibowo, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas LP3B menghabiskan anggaran sebesar Rp 39 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun berbagai sarana pendidikan, seperti ruang belajar, simulator, laboratorium, asrama taruna, hanggar, hingga area apron. Seluruh infrastruktur berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektare.

 

Menurut Santoso, kualitas SDM merupakan fondasi utama dalam kemajuan industri penerbangan. Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 800 pilot baru setiap tahunnya, sementara di tingkat Asia, permintaan bisa mencapai lebih dari 185.000 pilot. “Fasilitas ini dirancang untuk mencetak penerbang-penerbang andal, seiring dengan pesatnya pertumbuhan maskapai dan rute penerbangan di dalam negeri,” ungkapnya.

 

Sebelumnya, pendidikan pilot di wilayah ini masih menjadi bagian dari program studi di Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya. Namun, dengan berdirinya LP3B secara mandiri, proses pembelajaran dan pelatihan kini lebih terfokus, memanfaatkan Bandara Blimbingsari sebagai lokasi latihan terbang. Saat ini, LP3B telah memiliki 47 taruna aktif.

 

LP3B menjadi lembaga pendidikan pilot negeri kedua yang dikelola langsung oleh pemerintah, setelah Politeknik Penerbangan Indonesia Curug di Banten. Untuk mendukung pembelajaran, Kemenhub tahun ini juga telah menambahkan tiga unit pesawat latih Cessna 172 SP serta tiga unit simulator full motion, dengan total nilai investasi Rp 34 miliar. Rencananya, empat unit pesawat latih tambahan akan hadir tahun depan. Total kebutuhan dana hingga 2016 diperkirakan mencapai Rp 200 miliar guna memenuhi standar ideal.

 

Santoso menambahkan bahwa pihaknya menjalin kerja sama dengan Boeing dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. “Dengan supervisi dari Boeing, kami berharap LP3B menjadi pusat unggulan dalam mencetak SDM berkualitas di industri penerbangan nasional,” ujarnya.

 

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menyambut antusias kehadiran LP3B. Menurutnya, kehadiran sekolah ini akan memperkaya ekosistem pendidikan di Banyuwangi, yang telah memiliki berbagai lembaga vokasi, termasuk Politeknik Negeri Banyuwangi. “Industri penerbangan memiliki peran strategis dalam mendongkrak perekonomian. Kami ingin berperan aktif dalam meningkatkan mutu sektor ini. Apalagi, kami tengah mengembangkan Bandara Blimbingsari menjadi green airport pertama di Indonesia, bandara ramah lingkungan tanpa penggunaan AC,” jelas Anas.

 

Ia menambahkan bahwa sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi sekitar 240 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi transportasi udara. Saat ini, pertumbuhan industri penerbangan nasional berada di angka 15-18 persen per tahun.

 

“Dalam menghadapi era ASEAN Open Sky 2015 dan rencana pasar penerbangan tunggal ASEAN 2020, Indonesia membutuhkan tambahan ribuan tenaga terampil, termasuk sekitar 4.000 pilot, 1.000 petugas ATC (air traffic control), dan 4.500 teknisi,” tegas Anas.