Admin: Humas API Banyuwangi
Sidang Senat Terbuka Yudisium V Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi (Foto: Humas API Banyuwangi)
BANYUWANGI — Tantangan industri penerbangan Indonesia ke depan tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan teknologi, dinamika industri, serta tuntutan profesionalisme dan budaya keselamatan. Pesan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk, Letjen TNI (Purn.) Glenny Kairupan, dalam orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Yudisium V dan Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi, Selasa (11/8/2026).
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Membangun Aviasi Talent Ecosystem: Hari Ini Menyiapkan Indonesia Menjadi Kekuatan Penerbangan Dunia pada Tahun 2045,” Glenny menekankan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa Indonesia, dan dunia. Gelar akademik dan kompetensi yang diperoleh akan memiliki makna ketika diwujudkan melalui karya nyata, integritas, dan pengabdian.
Mengusung tema “BUILDING THE GAP, ELEVATING THE SKY” Sinergi Industri dan Vokasi Aviasi dalam Mencetak SDM Berdaya Saing Global dan Berbudaya Keselamatan, kegiatan ini menekankan sinergi industri dan vokasi aviasi dalam mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing global sekaligus menjunjung tinggi budaya keselamatan.
Menurut Glenny, dunia kerja yang akan dimasuki para lulusan merupakan lingkungan yang terus berubah. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), komputasi awan, analisis data besar, dan otomatisasi telah mengubah berbagai bagian dari rantai industri penerbangan.
Perubahan tersebut juga terlihat pada pengembangan smart airport, pemeliharaan pesawat berbasis predictive maintenance, pelayanan penumpang yang semakin personal melalui pemanfaatan data, hingga tuntutan menuju Green Aviation. Pengembangan bahan bakar ramah lingkungan, pesawat listrik, teknologi hidrogen, Advanced Air Mobility, drone, dan kendaraan udara nirawak juga akan menjadi bagian dari perkembangan transportasi udara di masa depan.

Orasi Ilmiah oleh Letjen TNI Purn. Glenny Kauripan selaku Direktur Utama PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk (Foto: Humas API Banyuwangi)
Glenny mengingatkan bahwa perkembangan tersebut membawa konsekuensi terhadap kebutuhan sumber daya manusia. Kompetensi yang dibutuhkan industri sepuluh tahun lalu tidak lagi sepenuhnya cukup untuk menghadapi tantangan pada tahun-tahun mendatang. Industri membutuhkan talenta yang memahami teknologi baru, keamanan siber, analitik data, keberlanjutan lingkungan, kemampuan berpikir sistem, kepemimpinan digital, sekaligus memiliki kemampuan beradaptasi dan terus belajar.
Kondisi tersebut, menurut Glenny, berpotensi memperlebar talent gap atau kesenjangan talenta apabila kemampuan lembaga pendidikan tidak bergerak secepat perubahan industri. Banyak kebutuhan pekerjaan baru berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan lembaga pendidikan menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai.
Karena itu, perguruan tinggi vokasi dinilai perlu bergerak lebih responsif terhadap perkembangan industri. Kurikulum tidak cukup hanya diperbarui secara berkala dalam rentang waktu panjang, tetapi harus bersifat dinamis dan mampu menyesuaikan kebutuhan teknologi serta dunia kerja. Pembelajaran juga tidak cukup berlangsung di ruang kelas, melainkan perlu diperkuat melalui pengalaman nyata di industri.
“Operator penerbangan tidak dapat lagi hanya menjadi pengguna lulusan, melainkan harus menjadi mitra strategis dalam membangun kompetensi sejak proses pendidikan berlangsung,” kata Glenny.
Ia kemudian menawarkan konsep Aviasi Talent Ecosystem, yakni ekosistem kolaborasi yang menghubungkan perguruan tinggi, operator penerbangan, regulator, industri pendukung, lembaga sertifikasi, pusat riset, dan dunia usaha dalam sebuah sistem yang terintegrasi untuk menghasilkan talenta penerbangan bagi pembangunan masa depan.
Dalam ekosistem tersebut, perguruan tinggi vokasi tidak hanya berperan sebagai institusi penghasil lulusan, tetapi juga sebagai pusat inovasi, pengembangan kompetensi, laboratorium industri, dan penyedia pembelajaran sepanjang hayat. Kurikulum dapat disusun bersama industri, praktisi dilibatkan dalam proses pembelajaran, sementara penelitian diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata dunia penerbangan.
Di sisi lain, operator penerbangan juga perlu mengubah paradigma dari sekadar pengguna lulusan menjadi bagian aktif dalam sistem pendidikan. Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan melalui penyusunan kurikulum, program magang, technical factory, sertifikasi profesi, penelitian bersama, serta pengembangan kompetensi tenaga pendidik.
Menurut Glenny, kolaborasi tersebut perlu diperkuat melalui enam pilar, yakni kurikulum berdasarkan kompetensi masa depan, digital learning yang memanfaatkan simulasi, virtual reality, dan AI, praktik kerja industri yang terstruktur dan berkelanjutan, riset dan inovasi yang berorientasi pada persoalan industri, kolaborasi internasional, serta pembelajaran sepanjang hayat.
Indonesia, lanjutnya, memiliki peluang untuk menjadi aviation talent hub di kawasan Asia Pasifik karena memiliki bonus demografi, jaringan pendidikan vokasi yang luas, industri penerbangan yang terus berkembang, serta posisi geografis yang strategis. Modal tersebut akan menjadi kekuatan apabila seluruh pemangku kepentingan mampu bergerak dalam ekosistem yang saling memperkuat.
Glenny juga mengingatkan bahwa kemajuan industri penerbangan tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Teknologi merupakan alat, sedangkan manusia yang menguasai, mengembangkan, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab tetap menjadi faktor penentu.
“Investasi terbesar adalah membangun SDM atau sumber daya manusia, talenta yang memiliki kompetensi global, karakter yang kuat, budaya keselamatan, kemampuan beradaptasi, dan semangat inovasi,” tegasnya.
Ia mendorong para lulusan untuk tidak hanya menjadi pengguna perkembangan teknologi, tetapi juga mampu mengantisipasi berbagai persoalan yang akan muncul. Salah satu contoh yang disampaikan adalah perkembangan drone yang membutuhkan kesiapan regulasi agar penggunaannya dapat berlangsung secara aman seiring semakin luasnya pemanfaatan teknologi tersebut.
Selain kompetensi teknis, Glenny menekankan pentingnya karakter dan kepemimpinan bagi generasi muda penerbangan. Ia memperkenalkan akronim PILOT sebagai bekal sederhana bagi para lulusan untuk mengembangkan kualitas kepemimpinan.
PILOT terdiri atas Professional, Intellectual, Loyal, Objective, dan Trust. Profesional berarti memiliki kompetensi dan integritas dalam menjalankan bidangnya. Intelektual mencakup rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan inisiatif. Loyal berarti memiliki kesetiaan dan komitmen terhadap tanggung jawab. Objektif berarti mampu melihat fakta berdasarkan data yang akurat, terbuka, analitis, dan tidak bias. Sementara Trust mencakup kejujuran, integritas, kompetensi, komunikasi efektif, empati, konsistensi, kerendahan hati, dan tanggung jawab.
Bagi Glenny, nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk pemimpin di industri penerbangan. Para lulusan tidak hanya akan bekerja sebagai tenaga profesional, tetapi juga berpotensi menjadi pemimpin yang memiliki tanggung jawab terhadap organisasi, keselamatan, masyarakat, dan bangsa.
“Ini semua dari pengertian PILOT bisa Saudara rangkum untuk menjadi seorang pemimpin yang baik,” ujarnya.
Pesan tersebut disampaikan kepada 53 yudisiawan yang mengikuti Yudisium V dari tiga kelompok pendidikan. Rinciannya, 11 yudisiawan Program Studi Diploma III Penerbang Sayap Tetap Angkatan V, 18 yudisiawan Program Studi Diploma III Operasi Pesawat Udara Angkatan IV Alpha, dan 24 yudisiawan Program Studi Diploma III Operasi Pesawat Udara Angkatan IV Bravo.
Seluruh yudisiawan tersebut memperoleh gelar akademik Ahli Madya Transportasi (A.Md.Tra) yang tercantum pada ijazah setelah menyelesaikan pendidikan dan memenuhi ketentuan kelulusan.
Sementara itu, penutupan pendidikan dan pelatihan diikuti 22 peserta, terdiri atas tujuh peserta Program Non-Diploma Penerbang Sayap Tetap Angkatan XXV dan 15 peserta Executive Pilot Program. Para peserta memperoleh lisensi penerbang yang mencakup Private Pilot License (PPL), Commercial Pilot License (CPL), Instrument Rating (IR), dan Multi Engine Rating (MER) sesuai dengan program yang ditempuh.
Bagi para lulusan, penyelesaian pendidikan menjadi titik awal untuk memasuki lingkungan profesional yang menuntut kompetensi, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan tanggung jawab terhadap keselamatan. Mereka menjadi bagian dari sumber daya manusia yang akan menentukan kemampuan Indonesia menghadapi perubahan industri penerbangan dan membangun daya saing nasional menuju 2045.
Glenny menutup orasinya dengan mengingatkan bahwa masa depan industri penerbangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar dan canggih pesawat yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan manusia dalam mengembangkan, mengolah, dan memanfaatkan teknologi tersebut.
Di balik seluruh kompetensi teknis dan perkembangan teknologi, ia juga menitipkan satu hal yang menurutnya tidak boleh ditinggalkan oleh para lulusan, yaitu kemanusiaan. Kemampuan merasakan persoalan dan penderitaan orang lain, menurutnya, merupakan bagian penting dari kualitas seorang manusia dan pemimpin.
Pesan tersebut menegaskan bahwa membangun talenta penerbangan untuk Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan manusia yang kompeten secara teknis, tetapi juga profesional, berintegritas, adaptif, berbudaya keselamatan, mampu memimpin, dan tetap memiliki kepedulian terhadap sesama.
Selamat berkarya, para lulusan API Banyuwangi.
Hak Cipta © 2013 - 2026 Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi